After Life part : 1

Europe  

Seperti serial televisi Inggris yang bagus, After Life hanya terdiri enam episode setiap musimnya. Sayangnya seri ini hanya diproduksi tiga musim. Kreatornya, Ricky Gervais, memutuskan untuk mengakhirnya pada akhir tahun lalu.

Sebelumnya saya tidak terlalu terkesan dengan karya-karya Gervais. Seperti The Office versi asil atau Derek. Tapi After Life sangat berbeda dari karya-karya Gervais sebelumnya. Ia memang dikenal dengan humor satir tajam dengan sentuhan humanis.

Tapi di beberapa karyanya yang terdahulu ia terkesan terlalu keji dalam memandang manusia dan kemanusiaan. Ia begitu marah dengan segenap kebodohan manusia dan putus asa dengan arogansi dan sikap-masa-bodo mereka. Di After Life sepertinya ia berusaha berdamai dengan itu.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Di After Life, Gervais menggunakan depresi dan 'suicidal thought' untuk menghakimi kekejaman dunia dengan humor. Tokoh utama yang diperankan Gervais sendiri, Tony Johnson selalu berhasil merespon pernyataan dengan komedi kering dan getir.

Di sepanjang seri Tony selalu marah, kesal dan gundah. Sejak istrinya Lisa meninggal dunia karena kanker, ia mengalami depresi tapi di musim tayang pertama dan kedua ia belum mengakuinya.

Menurutnya bunuh diri masuk akal karena ia sudah tidak lagi memiliki alasan untuk hidup sejak Lisa meninggal. Di awal seri satu-satunya yang menahan Tony mengakhiri hidupnya karena ia harus merawat anjing mereka, Brandy.

Tony juga memiliki ayah yang mengalami demensia dan dirawat di panti jompo. Tony melakukan terapi tapi ternyata psikolognya tidak kompeten. Di kantor ia selalu berselisih dengan Matt, saudara ipar sekaligus bosnya, dan mengejek fotografernya Lenny dan orang pemasaran Kath.

Di musim pertama dan kedua Tony juga mementori anak magang yang bernama Sandy, perempuan muda yang gelisah akrena masih tinggal bersama orang tuanya meski sudah dewasa. Orang-orang disekelilingnya seperti Matt dan Lenny mengerti Tony mengalami depresi setelah Lisa meninggal.

Ann M. Kring dan Sheri L. Johnson dalam Abnormal Psychology : The Science and Treatment of Psychological Disorder mengatakan salah satu gejala depresi mayor adalah tidak dapat merasakan kegembiraan. Kring dan Johnson mengatakan sebagian besar orang memang pernah mengalami kesedihan dalam hidupnya.

Tapi intensitasnya dan durasinya tidak sampai dinyatakan mengalami depresi. Kring dan Johnson mengatakan gejala depresi beragam. Mereka fokus pada kegagalan dan kelemahan mereka. Sulit untuk bisa menyerap apa yang mereka dengar atau baca. Selalu memandang hal dari sisi negatif dan merasa tidak memiliki harapan.

Setiap hari Tony selalu menonton rekaman video saat Lisa masih hidup. Ia makan sembarangan dan selalu minum alkohol. Ia juga tidak lagi tertarik dengan pekerjaannya sebagai wartawan surat kabar lokal.

Ia selalu melihat sisi negatif narasumbernya, Gervais menggunakan pertemuan-pertemuan Tony dan narasumbernya dengan adegan-adegan komedi. Tapi Tony tidak hanya bertemu karakter-karakter aneh dan menarik saat ia bekerja sebagai jurnalis.

Namun orang-orang disekelilingnya juga sangat komikal dan unik. Seperti tukang posnya Pat, pelacur yang tidak sengaja menjadi temannya Daphne, laki-laki yang suka menimbun barang dan ingin masuk koran Brian Gittins dan kepala teater lokal Ken Otley.

Mereka tokoh-tokoh absurd rekaan Gervais yang hampir tidak mungkin ada di dunia nyata. Tapi menggambarkan ciri-ciri masyarakat moderen. Kecuali Daphne, mereka tidak tahu Tony mengalami depresi.

Tokoh-tokoh yang hanya peduli pada diri mereka sendiri dan menganggap Tony seorang sarkatis getir. Tapi menerimanya apa adanya. Menjawab respon kering Tony dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Gervais menjauhkan isu bunuh diri dan depresi dari agama dan membahasnya dengan sangat sekuler. Jadi perdebatan untuk mengakhir atau tidak mengakhiri hidup Tony menjadi salah logis.

Psikolog Gerald C. Davison, John M. Neale, dan Ann M. Kring di Abnormal Psychology 9th International edition menulis bunuh diri memang tidak dikutuk dalam pemikiran Barat hingga abad ke-4. Sampai Santo Agustinus mengumumkan bunuh diri merupakan suatu kejahatan karena melanggar Perintah Tuhan yang Keenam, "Engkau dilarang membunuh."

Kemudian Santo Thomas Aquinas merinci pandangan tersebut pada abad ke-13, mendeklarasikan bunuh diri sebagai dosa besar karena mengambil alih kekuasaan Tuhan atas hidup dan mati. Maka, meskipun Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak eksplisit melarang tindakan bunuh diri, Barat akhirnya menganggap bunuh diri sebagai kejahatan dan dosa.

"Ironisnya pelarangan bunuh diri dalam agama Kristen, yang dilandasi sikap sangat menghargai hidup justru berkontribusi terhadap pendakwaan mereka yang mencoba atau berhasil menghilangkan nyawa mereka sendiri," tulis Davison, Neale dan Kring.

"Hingga tahun 1823, semua orang di London yang mati karena bunuh dikubur dengan sebuah tonggak ditancapkan ke jantung, dan baru pada tahun 1961 bunuh diri tidak lagi dianggap sebagai tindakan kriminal di Inggris."

Ketiga psikolog itu mengatakan di Amerika Serikat dewasa ini, beberapa negara bagian menggolongkan percobaan bunuh diri sebagai tindakan kriminal meskipun tindakan tersebut jarang dituntut. Sebagian besar negara bagian memiliki hukum yang menggolongkan tindakan yang mendorong atau menyarankan bunuh diri sebagai tindakan kriminal.

After Life menyentuh fenomena yang sangat jarang atau hampir enggan disentuh acara televisi. Entah bagaimana Gervais bisa menyajikan seri ini ke layar kaca walau musim ketiga ditayangkan layanan streaming.

Di lain kesempatan saya akan membahas dasar filosofis dari logika bunuh diri After Life dan bagaimana Tony memutuskan untuk tidak melakukannya. Tapi untuk saat ini cukup menikmati karya indah Gervais ini di layar kaca.

Berita Terkait

Image

Archive 81 episode 2

Image

Archive 81 episode 1

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

0

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image